Model Pertanian Organik Murah

Masanubo Fukuoka mengenalkan penggunaan jerami sebagai mulsa dan penyubur tanah. Hal itu banyak menginspirasi orang tentang pertanian organik yang murah dan mudah. Namun, definisi mudah bisa dikatakan relatif. Di beberapa tempat, jerami ternyata bukanlah barang yang gampang didapat. Karena itu, yang mungkin perlu kita ambil adalah prinsipnya, yaitu bagaimana sebanyak mungkin mengembalikan bahan organik ke lahan kita sehingga lahan tetap subur dan tanah menjadi gembur.

Ada satu kebiasaan menarik yang dilakukan beberapa orang di negara-negara Eropa dan Amerika dalam menyuburkan tanah, sekaligus mengurangi gulma secara alami, yaitu menaburkan sisa-sisa buangan pohon, seperti ranting, daun, dan serpihan kayu di lahan tanam mereka. Sebenarnya konsep ini bukanlah hal baru bagi petani kita, namun bagaimana mereka menjadikannya terpola, itulah yang menarik.

permakulturGulma berupa rumput-rumputan, yang biasanya dianggap musuh, dengan sudut pandang di atas, justru mereka anggap sebagai modal untuk bahan baku campuran dalam pembuatan kompos.

Mereka menjadikan kegiatan mengompos sebagai kegiatan wajib, karena kompos itulah yang akan menjadi media tanam utama mereka. Tekstur kompos yang gembur, membuat mereka tidak perlu lagi melakukan pencangkulan atau pembajakan lahan.

Karena itu, kini berkembang istilah “No dig gardening” (berkebun tanpa menggali/mencangkul). Dengan cara ini, di lahan berbatu atau berpasir sekalipun kita masih bisa menanam sayur. Asalkan punya kompos, kita bisa menebarnya di satu area tertentu dengan ketebalan 20-30 cm, lalu menanam aneka benih di atasnya. Menurut saya, cara ini menjadi solusi bagi para peminat bercocok tanam yang tanah pekarangannya kurang kondusif untuk ditanami dengan cara konvensional.

Tertarik mencoba?