Category Archives: Artikel

Membuat Pupuk Cair untuk Merangsang Pertumbuhan Bunga dan Buah

Foto: tamanlestari.com

Tentu menyenangkan jika  mawar, kemuning, dan tanaman buah kita berbunga banyak.  Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah memberi pupuk tambahan. Anda dapat membuatnya sendiri di rumah, mengunakan bahan-bahan sederhana.  Berikut ini tutorial cara pembuatannya.

Proses pembuatan pupuk cair ini menggunakan metode aerob atau dengan bantuan udara.

Alat:
1. Ember ukuran 5 liter
2. Pisau
3. Talenan
4. Blender (opsional)

Bahan-bahan:
– 300-400 gram kulit pepaya
– 300-400 gram kulit pisang
– 1 liter air kelapa
– 3 liter air sumur
– 3 keping gula merah (kurang lebih 100 gram)
– ½-1 ons tape singkong
– 100 gram daun kipait (insulin)

Cara membuat:
1. Potong-potong kulit pepaya, kulit pisang, dan daun kipait, sehingga berukuran cukup kecil. Untuk memperoleh potongan yang lebih halus, bisa juga menggunakan blender.
2. Tuangkan campuran ketiga bahan itu ke alam ember ukuran 5 liter.
3. Tuangkan air kelapa, irisan gula merah, dan tape yang sudah dihaluskan ke dalam ember
4. Tambahkan 3 liter air sumur (bukan air yang mengandung kaporit)
5. Aduk semua bahan hingga merata
6. Tutup ember dengan kain
7. Biarkan selama 1 minggu.

Catatan:
Aduk larutan setidaknya satu kali dalam sehari lalu tutup lagi.

8. Setelah satu minggu, saring larutan, lalu masukkan cairan ke dalam botol tertutup. Ampasnya dapat dikeringkan sebagai tambahan pupuk kering.

TAKARAN PENGGUNAAN
– Tanaman di dalam pot= 10 ml POC: 1 liter air biasa (seminggu sekali)
– Tanaman yang ditanam di tanah= 20 ml POC: 1 liter air biasa (1-2 minggu sekali).

Model Pertanian Organik Murah

Masanubo Fukuoka mengenalkan penggunaan jerami sebagai mulsa dan penyubur tanah. Hal itu banyak menginspirasi orang tentang pertanian organik yang murah dan mudah. Namun, definisi mudah bisa dikatakan relatif. Di beberapa tempat, jerami ternyata bukanlah barang yang gampang didapat. Karena itu, yang mungkin perlu kita ambil adalah prinsipnya, yaitu bagaimana sebanyak mungkin mengembalikan bahan organik ke lahan kita sehingga lahan tetap subur dan tanah menjadi gembur.

Ada satu kebiasaan menarik yang dilakukan beberapa orang di negara-negara Eropa dan Amerika dalam menyuburkan tanah, sekaligus mengurangi gulma secara alami, yaitu menaburkan sisa-sisa buangan pohon, seperti ranting, daun, dan serpihan kayu di lahan tanam mereka. Sebenarnya konsep ini bukanlah hal baru bagi petani kita, namun bagaimana mereka menjadikannya terpola, itulah yang menarik.

permakulturGulma berupa rumput-rumputan, yang biasanya dianggap musuh, dengan sudut pandang di atas, justru mereka anggap sebagai modal untuk bahan baku campuran dalam pembuatan kompos.

Mereka menjadikan kegiatan mengompos sebagai kegiatan wajib, karena kompos itulah yang akan menjadi media tanam utama mereka. Tekstur kompos yang gembur, membuat mereka tidak perlu lagi melakukan pencangkulan atau pembajakan lahan.

Karena itu, kini berkembang istilah “No dig gardening” (berkebun tanpa menggali/mencangkul). Dengan cara ini, di lahan berbatu atau berpasir sekalipun kita masih bisa menanam sayur. Asalkan punya kompos, kita bisa menebarnya di satu area tertentu dengan ketebalan 20-30 cm, lalu menanam aneka benih di atasnya. Menurut saya, cara ini menjadi solusi bagi para peminat bercocok tanam yang tanah pekarangannya kurang kondusif untuk ditanami dengan cara konvensional.

Tertarik mencoba?

Cara Membuat Kunyit Instan Kering

Hasil panen kunyit di pekarangan kadang mungkin berlimpah. Akan tetapi, untuk dijual ke pengepul juga tanggung. Nah, selain kita simpan sebagian untuk bumbu segar, kita juga bisa mengawetkannya menjadi serbuk minuman instan. Memang, kunyit instan sudah banyak juga dijual di pasaran, namun jika kita membuatnya sendiri tentu memiliki kelebihan, yaitu menjadi lebih pasti komposisi bahannya, dan tidak perlu memakai pengawet apalagi pewarna atau pemanis buatan.

Bahan yang dibutuhkan:

  1. Kunyit segar
  2.  Gula pasir
  3. Sejumput garam untuk penambah rasa
  4. Bahan tambahan: daun pandan, cengkih, jeruk nipis (optional)

 

Menanam Markisa Di Pekarangan

mayapujiati / Pixabay

Markisa, termasuk tanaman buah yang mengasyikkan. Mereka tidak rewel soal perawatan. Kita hanya perlu menyediakan rambatan. Selanjutnya mereka akan berkembang sendiri, berbunga, dan berbuah. Rasa buahnya yang asam menunjukkan bahwa ia mengandung vitamin C cukup tinggi. Tidakkah hal itu merupakan keunggulan sebagai tanaman pilihan keluarga? Seberapa kecilnya pun pekarangan rumah, jangan sampai kita memanen ruang kosong.  ^_^

markisa2

Sumber foto: www.tamanlestari.com

Menanam Bunga Kol Hidroponik

Salah satu keunggulan bertanam dengan teknik hidroponik memang terletak pada fleksibilitasnya. Seorang “petani” tidak mesti harus memiliki lahan luas untuk menanam berbagai sayuran. Salah satu jenis sayuran yang bisa dicoba adalah bunga kol (cauliflower). Bermodalkan wadah tanam berupa pipa PVC 3″ yang dirangkai menjadi rangkaian DFT, bunga kol bisa tumbuh baik dan berbunga.

bungakol

Cara menanam tak beda dengan teknik bertanam konvensional. Biji disemai dulu. Setelah tumbuh 4 daun, barulah bibit dipindahkan ke wadah tanam tetapnya.

Nutrisi hidroponik yang diberikan menggunakan ukuran perbandingan:
– 5 ml: 1 liter air pada dua minggu pertama,
– 7 ml:1 liter air pada minggu ke-3 dan ke-4
– 8-9 ml: 1 liter pada minggu ke-5 hingga sekarang sampai panen.

Sayuran Berkelanjutan (1)

Sayuran modern, kebanyakan berasal dari benih impor yang berumur pendek atau semusim. Kelebihannya, warna dan bentuk biasanya cantik-cantik dan menarik. Kelemahannya, karena berumur pendek, jadi perlu penyemaian ulang. Bagi para penanam yang sibuk, hal ini mungkin menyulitkan, karena itulah tanaman lokal dari jenis perdu dengan batang mengayu maupun tanaman merambat, tak ada salahnya dilirik kembali. Apa saja itu?

Singkong
daunsingkong2-300x213
Hanya berbekal potongan batangnya, kita sudah bisa menghasilkan tanaman penghasil sayuran daun dan juga umbi untuk sumber karbohidrat. Daun singkong kaya akan kalsium dan zat besi. Kita bisa mengolahnya menjadi berbagai macam makanan olahan: bisa dibikin urap, direbus saja sebagai lalap, dibuat gulai, pewarna makanan, dll.
Katuk
IMG_9159-300x263Tanaman ini mungkin termasuk jarang dikonsumsi. Lebih sering orang menghubungkannya dengan obat panas dalam dan ibu yang baru melahirkan untuk menambah jumlah ASI. Padahal daun katuk juga merupakan sumber vitamin C yang baik untuk dikonsumsi sehari-hari. Salah satu keunggulan tanaman katuk juga berkelanjutan, seperti halnya singkong. Sekali kita menanamnya, bisa terus tumbuh, dan bercabang banyak.
Labu Siam
waluh3-300x208Tanaman ini menahun. Buahnya sangat lebat ketika sudah merambat. Bagian lain yang bisa dijadikan sayur adalah pucuknya. Selain memberinya rambatan, tak ada perawatan khusus lainnya untuk tanaman ini. Kalau kita tidak berbagai dengan tetangga atau menjualnya, bisa jadi kita kewalahan menampung buahnya yang terus bermunculan.
Kara/Roay
Ada setidaknya 3 jenis kacang kara/roay: roay untuk lalap mentah, roay sayur, dan roay gepeng mirip ikan peda. Tanaman ini menghasilkan polong. Kalau dipanen saat kulit polong masih muda, kita bisa menyertakan kulitnya saat memasak, namun jika kulit polong sudah liat dan keras, biasanya hanya bijinya saja yang diambil dan diolah.

Kelor
Tanaman ini berbentuk pohon. Bagian yang diambil sebagai sayur adalah daunnya. Menurut beberapa referensi, daun kelor memiliki kandungan nutrisi yang kaya dan berguna. Kelor juga mengandung protein nabati dan kalsium. Tanaman tergolong sayuran berkelanjutan, karena umurnya panjang. Setiap kali kita memanen daunnya, akan muncul tunas baru yang menggantikan.

Menanam Bawang Merah

Di daerah berhawa dingin, menanam bawang merah butuh perjuangan. Saya sudah mencoba beberapa kali, tak juga berhasil. Tapi, seperti biasa, gunakan selalu filosofi, “pantang patah arang”. Kalau kita terus berusaha, bisa jadi ada jalan keluar. Nah, sekarang saya sedang mencoba lagi, namun dengan teknik penyemaian yang sedikit berbeda.

bawangmerah2-294x300

Terinspirasi dari model penyemaian bawang merah ala “hidroponikers”, saya kondisikan dulu si benih bawang (yang saya peroleh dari sisa-sisa bumbu dapur) supaya tumbuh daunnya. Media semai yang saya gunakan: sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah. Penyemaian dilakukan di baki semai supaya mudah dalam penyapihan. Untuk perawatan hanya disiram minimal 1x sehari.

Satu hal yang mungkin baru bagi saya adalah pemotongan ujung atas umbi bawang. Ternyata, teknik itu mempercepat pertumbuhan daun. Insya Allah bawang-bawang yang sudah berdaun ini akan saya tanam secara hidroponik dan juga dengan media padat organik. Mudah-mudahan kali ini akan berhasil.

Membuat Kerajinan dari Kertas HVS Bekas

Kertas bekas bisa didaur ulang atau digunakan kembali. Kali ini kami hadirkan salah satu cara memanfaatkan kertas bekas, terutama kertas HVS sebagai bahan kerajinan. Produk yang akan kita buat kali ini adalah “File Case”.

Bahan yang dibutuhkan:
– 40-50 lembar kertas HVS bekas
– 4 lembar kertas koran bekas
– Bunga kertas atau bahan dekorasi lain.

Alat dan perlengkapan:
– Glue Gun
– Lem tembak
– Lem putih untuk kayu
– Gunting
– Pelitur kayu berbahan campuran air

Cara pembuatan bisa disimak dalam uraian berikut ini:

TAHAP 1

Lipat kertas HVS menjadi batang anyam. Ukuran kertas yang saya pakai: folio 70 gram. Untuk membuat “File Case” kita membutuhkan sekitar 40 buah batang anyam. Cara melipat bisa dilihat dalam video di bawah ini:

TAHAP 2
Karena kita membutuhkan batang anyam yang lebih panjang untuk anyaman horizontal, kita perlu menyambung dua atau lebih batang anyam. Jumlah batang anyam yang panjang terdiri atas:
– 4 batang anyam yang panjangnya 2 1/2 kali batang tunggal.
– 4 batang anyam yang panjangnya 2 kali batang tunggal

Cara menyambungnya bisa dilihat dalam video di bawah ini:

TAHAP 3

1. Lakukan penguncian rangka anyaman supaya tidak mudah berubah posisinya. Caranya bisa dilihat dalam video.

2. Ukur panjang “file case” dari ujung kiri dan kanan kurang lebih 23-24 cm. Tandai dengan pensil/balpoin. Ruang yang tersisa di antara keduanya akan menjadi lebar “file case”.

3. Mulailah menganyam dengan meletakkan batang vertikal di garis 24 cm dari sisi kiri dan kanan. Kemudian letakkan batang vertikal berikutnya dengan posisi sedemikian rupa sehingga lebar rongga anyaman hampir sama. Jangan lupa mengoleskan lem di setiap ujung batang anyam agar anyaman menjadi kokoh.

4. Setelah semua batang anyam terpasang, lipat rangkaian anyaman tepat pada batas 24 cm dari sisi kiri dan 24 cm dari sisi kanan. Lalu berdirikan anyaman.

Catatan:
Batang anyam horizontal yang panjangnya 2 1/2 kali diletakkan berturut-turut di bagian bawah anyaman

Selengkapnya bisa dilihat dalam video berikut: