Author Archives: admin

Menanam Bayam Petik

bayam-300x244

Saat ini kebanyakan jenis bayam yang dijual di pasar adalah bayam cabut. Umurnya pendek, dan jika dipaksakan terus tumbuh, batang akan cepat mengeras, sehingga tidak enak lagi untuk dimakan. Karena itulah bayam petik menjadi lebih menarik bagi saya, karena ia lebih tahan lama. Daunnya pun lebar, sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku keripik dan ketika dimasak sebagai sayur bening, rasanya lebih gurih, serta aromanya juga khas.

Beginilah penampakan bunganya:

Bunga bayam petik
Selain rasanya lebih enak, bayam petik bisa dipanen berkali-kali. Setelah dipetik, akan muncul pucuk baru dengan cabang dua atau tiga. Kita bisa memanennya lagi setelah pucuk-pucuk itu siap panen.

Sayuran Berkelanjutan (1)

Sayuran modern, kebanyakan berasal dari benih impor yang berumur pendek atau semusim. Kelebihannya, warna dan bentuk biasanya cantik-cantik dan menarik. Kelemahannya, karena berumur pendek, jadi perlu penyemaian ulang. Bagi para penanam yang sibuk, hal ini mungkin menyulitkan, karena itulah tanaman lokal dari jenis perdu dengan batang mengayu maupun tanaman merambat, tak ada salahnya dilirik kembali. Apa saja itu?

Singkong
daunsingkong2-300x213
Hanya berbekal potongan batangnya, kita sudah bisa menghasilkan tanaman penghasil sayuran daun dan juga umbi untuk sumber karbohidrat. Daun singkong kaya akan kalsium dan zat besi. Kita bisa mengolahnya menjadi berbagai macam makanan olahan: bisa dibikin urap, direbus saja sebagai lalap, dibuat gulai, pewarna makanan, dll.
Katuk
IMG_9159-300x263Tanaman ini mungkin termasuk jarang dikonsumsi. Lebih sering orang menghubungkannya dengan obat panas dalam dan ibu yang baru melahirkan untuk menambah jumlah ASI. Padahal daun katuk juga merupakan sumber vitamin C yang baik untuk dikonsumsi sehari-hari. Salah satu keunggulan tanaman katuk juga berkelanjutan, seperti halnya singkong. Sekali kita menanamnya, bisa terus tumbuh, dan bercabang banyak.
Labu Siam
waluh3-300x208Tanaman ini menahun. Buahnya sangat lebat ketika sudah merambat. Bagian lain yang bisa dijadikan sayur adalah pucuknya. Selain memberinya rambatan, tak ada perawatan khusus lainnya untuk tanaman ini. Kalau kita tidak berbagai dengan tetangga atau menjualnya, bisa jadi kita kewalahan menampung buahnya yang terus bermunculan.
Kara/Roay
Ada setidaknya 3 jenis kacang kara/roay: roay untuk lalap mentah, roay sayur, dan roay gepeng mirip ikan peda. Tanaman ini menghasilkan polong. Kalau dipanen saat kulit polong masih muda, kita bisa menyertakan kulitnya saat memasak, namun jika kulit polong sudah liat dan keras, biasanya hanya bijinya saja yang diambil dan diolah.

Kelor
Tanaman ini berbentuk pohon. Bagian yang diambil sebagai sayur adalah daunnya. Menurut beberapa referensi, daun kelor memiliki kandungan nutrisi yang kaya dan berguna. Kelor juga mengandung protein nabati dan kalsium. Tanaman tergolong sayuran berkelanjutan, karena umurnya panjang. Setiap kali kita memanen daunnya, akan muncul tunas baru yang menggantikan.

Menanam Bawang Merah

Di daerah berhawa dingin, menanam bawang merah butuh perjuangan. Saya sudah mencoba beberapa kali, tak juga berhasil. Tapi, seperti biasa, gunakan selalu filosofi, “pantang patah arang”. Kalau kita terus berusaha, bisa jadi ada jalan keluar. Nah, sekarang saya sedang mencoba lagi, namun dengan teknik penyemaian yang sedikit berbeda.

bawangmerah2-294x300

Terinspirasi dari model penyemaian bawang merah ala “hidroponikers”, saya kondisikan dulu si benih bawang (yang saya peroleh dari sisa-sisa bumbu dapur) supaya tumbuh daunnya. Media semai yang saya gunakan: sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah. Penyemaian dilakukan di baki semai supaya mudah dalam penyapihan. Untuk perawatan hanya disiram minimal 1x sehari.

Satu hal yang mungkin baru bagi saya adalah pemotongan ujung atas umbi bawang. Ternyata, teknik itu mempercepat pertumbuhan daun. Insya Allah bawang-bawang yang sudah berdaun ini akan saya tanam secara hidroponik dan juga dengan media padat organik. Mudah-mudahan kali ini akan berhasil.

Hidroponik Selada “Romaine Ballon”

Beberapa waktu lalu saya sudah mencoba menanam sawi secara hidroponik. Bak nutrisinya wadah plastik segiempat, dan penutupnya dari styrofoam. Selama hama belum mampir, alhamdulillah subur dan bisa dipanen. Setelah musim penghujan datang, memang ada sedikit masalah dalam hidroponik. Perlu bersabar dulu untuk menanam lagi.

sawi8-300x270

Nah, karena saya sudah menyemai selada romaine di rockwool sebelum musim hujan, akhirnya saya coba beranikan diri untuk berhidroponik lagi. Kali ini saya menggunakan pipa PVC 3″ yang dirangkai sendiri secara sederhana.

Awalnya, pertumbuhan selada kurang bagus, bahkan saya sangsi mereka akan kuat bertahan. Namun setelah hampir dua minggu ternyata mereka berhasil melewati fase adaptasi cuaca. Alhamdulillah, daunnya mulai melebar dan meninggi. Kesimpulan sementara dari pengalaman itu, khusuromain-300x200s untuk musim hujan, teknik menanam secara hidroponik harus dilakukan dengan naungan, sehingga tidak terciprat air hujan terlalu banyak.

 

 

 

Membuat Air Mawar Sendiri

Kalau kita menanam mawar, dan bunganya mulai melimpah, tentu sayang jika dibuang begitu saja. Salah satu alternatif untuk memanfaatkan mawar adalah membuatnya menjadi air mawar. Cairan alami ini bisa kita gunakan sebagai pengganti tonic (penyegar) wajah atau untuk merawat kulit kepala. Bagaimana cara pembuatannya? Mari kita lihat urutan foto di bawah ini:

membuatairmawar-300x211

  1.  Setelah helai-helai mawar kita pipil, masukkan ke dalam panci bersih.
  2. Tuangkan air dengan takaran perkiraan 2 gelas untuk 4-5 kuntum mawar.
  3. Tutup panci agar aroma mawar tidak terlalu banyak hilang.
  4. Setelah kurang lebih 5 menit, matikan kompor, dan akan kita lihat warna helai mawar yang semula merah muda jadi memudar.
  5. Setelah agak dingin, saring air rebusan mawar ke dalam mangkuk.
  6. Biarkan cairan mawar dingin sempurna, dan setelah itu bisa dimasukkan ke dalam stoples kaca tertutup. Simpan di lemari es untuk digunakan kapanpun. Namun lama penyimpanan di lemari es, paling lama hanya seminggu.

Mudah, bukan? Yuk, manfaatkan tanaman di sekitar kita, jangan biarkan terbuang percuma. Go Nature!

Menanam Kol dalam “Raised Bed” Kayu

“Raised bed”, awalnya saya pikir hanya terkait seni saja dalam bercocok tanam ala moderen, terutama untuk skala rumah tangga. Akan tetapi, setelah saya coba praktikkan, dan melihat sendiri hasilnya, saya mengerti mengapa model ini direkomendasikan.

Pada dasarnya “raised bed” mengadopsi konsep pembuatan bedengan dalam pertanian konvensional. Bedanya, bedengan berbentuk tanah yang ditinggikan dengan cara pencangkulan, sedangkan “raised bed” menggunakan wadah atau media penghalang di sisi-sisinya. Bahan baku untuk wadah bisa berupa kayu, asbes, batu, potongan pohon tua, dll. Media tanam dimasukkan seperti halnya kita menanam di dalam pot. Namun berbeda dengan pot, “raised bed” biasanya tidak tertutup bagian bawahnya. Jadi, media tanam masih terhubung dengan alas di bawahnya. Alasnya sendiri bisa berupa rumput, pasir, kerikil, tanah, atau bahkan semen. Itu berarti, di pekarangan tanpa tanah sekalipun, “reised bed” bisa digunakan. Kelebihan penanaman dengan “raised bed” di antaranya:

1. Campuran media tanam bisa dikondisikan seideal mungkin, dengan perbandingan tanah:pupuk:penggembur (sekam, misalnya) antara 1:1:1

2. Jika menanam di musim kemarau, penyiraman tidak terlalu boros air, karena air terisolasi di dalam “raised bed”.

3. Jika menanam di musim hujan, pupuk juga menjadi lebih efektif dalam memberi makanan kepada tanaman inti, karena tidak limpas ke luar area tanam.

4. Biasanya lebih minim gulma, karena sejak tahap pencampuran media tanam bisa dilakukan seselektif mungkin, dalam arti, tanah yang kita gunakan sudah dibersihkan dari gulma.

5. Dibandingkan dengan penanaman di dalam pot, yang volume medianya relatif sedikit, dengan “raised bed” kondisi media tanam hampir menyerupai area tanam bebas (di tanah), sehingga tanaman akan tumbuh optimal.

Saya sudah mencoba menanam kol di dalam “raised bed” kayu dan hasilnya cukup mengejutkan. Saya bisa panen kol di pekarangan walau jumnlahnya tidak terlalu banyak. Dulu sempat menanam kol juga di polybag dan tanah, namun yang terjadi, kol hanya subur pada saat fase berdaun namun ketika memasuki fase pembentuk
an krop, kol di polybag tidak tumbuh optimal karena kandungan hara mungkin minim, dan yang dipindahkan ke tanah berakhir dengan busuk karena curah hujan tinggi dan juga hancur karena serangan ulat grayak. Namun setelah memakai “raised bed”, alhamdulillah hasilnya berbeda.

Kol di “raised bed” bisa dilihat di dalam foto di bawah ini. Tapi mengingat hujan sedang intensif, kol dipanen lebih awal meski belum padat benar. Bisa dipahami, begitulah juga mungkin para petani sungguhan sering mengambil pilihan ini saat menjumpai kondisi yang sama. Alasannya sederhana: daripada tidak terpanen sama sekali, karena ancaman busuk dan hama menghampiri.kolpanen

Bravo buat para petani. Tanpa patah arang, di musim berikutnya mereka enggak kapok, tetep aja menanam lagi. Perputaran bahan pangan kemudian terjadi di pasar-pasar, hingga kita-kita yang bukan petani pun mendapatkan pasokan makanan tanpa harus lelah mencangkul dan memikul. Petani mungkin memang “pahlawan” tanpa medali untuk tegaknya sendi-sendi kita. Terima kasih bagi mereka. Jangan suka nawar kalau beli hasil panenen mereka, ya. ^_^

Membuat Kerajinan dari Kertas HVS Bekas

Kertas bekas bisa didaur ulang atau digunakan kembali. Kali ini kami hadirkan salah satu cara memanfaatkan kertas bekas, terutama kertas HVS sebagai bahan kerajinan. Produk yang akan kita buat kali ini adalah “File Case”.

Bahan yang dibutuhkan:
– 40-50 lembar kertas HVS bekas
– 4 lembar kertas koran bekas
– Bunga kertas atau bahan dekorasi lain.

Alat dan perlengkapan:
– Glue Gun
– Lem tembak
– Lem putih untuk kayu
– Gunting
– Pelitur kayu berbahan campuran air

Cara pembuatan bisa disimak dalam uraian berikut ini:

TAHAP 1

Lipat kertas HVS menjadi batang anyam. Ukuran kertas yang saya pakai: folio 70 gram. Untuk membuat “File Case” kita membutuhkan sekitar 40 buah batang anyam. Cara melipat bisa dilihat dalam video di bawah ini:

TAHAP 2
Karena kita membutuhkan batang anyam yang lebih panjang untuk anyaman horizontal, kita perlu menyambung dua atau lebih batang anyam. Jumlah batang anyam yang panjang terdiri atas:
– 4 batang anyam yang panjangnya 2 1/2 kali batang tunggal.
– 4 batang anyam yang panjangnya 2 kali batang tunggal

Cara menyambungnya bisa dilihat dalam video di bawah ini:

TAHAP 3

1. Lakukan penguncian rangka anyaman supaya tidak mudah berubah posisinya. Caranya bisa dilihat dalam video.

2. Ukur panjang “file case” dari ujung kiri dan kanan kurang lebih 23-24 cm. Tandai dengan pensil/balpoin. Ruang yang tersisa di antara keduanya akan menjadi lebar “file case”.

3. Mulailah menganyam dengan meletakkan batang vertikal di garis 24 cm dari sisi kiri dan kanan. Kemudian letakkan batang vertikal berikutnya dengan posisi sedemikian rupa sehingga lebar rongga anyaman hampir sama. Jangan lupa mengoleskan lem di setiap ujung batang anyam agar anyaman menjadi kokoh.

4. Setelah semua batang anyam terpasang, lipat rangkaian anyaman tepat pada batas 24 cm dari sisi kiri dan 24 cm dari sisi kanan. Lalu berdirikan anyaman.

Catatan:
Batang anyam horizontal yang panjangnya 2 1/2 kali diletakkan berturut-turut di bagian bawah anyaman

Selengkapnya bisa dilihat dalam video berikut: