Petualangan di Sumatera

Tanggal 19 Agustus 2011 yang lalu, kami sekeluarga dengan keluarga adik papaku, Om In dan keluarganya, berangkat ke bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Kami berangkat dengan pesawat Batavia-Air. Pesawat kami terbang melintasi Provinsi Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan, menuju Sumatera Barat. Untuk sampai di rumah kakek di Payakumbuh, kami masih harus pergi dengan mobil selama beberapa jam. Sesampainya di sana, kami disambut oleh kakek, nenek, dan keluarga adik papa yang nomor satu, Mak Cik ( panggilan adik papa atau mama dalam bahasa Padang ) An.

Keesokan harinya, keluarga adik papa yang nomor dua, Mak Cik Sal, datang pula. Rumah kakek ramai sekali pada waktu maghrib, berbuka puasa. Seperti aku membiasakan diri dengan teman-temanku di Tanjungsari, aku juga membiasakan diri bersama kedelapan sepupu-sepupuku. Anak Mak Cik An ada lima. Yang pertama namanya Bang Subhan. Kedua Bang Muzakir. Ketiga Kak Aisy, dan yang terakhir kembar dua, Nazif dan Nazifah. Anak Mak Cik Sal ada tiga, Bang Zaim, Abdullah dan Afifah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Belajar Bersama

Masih liburan tahun baru 2012, sepupu-sepupuku, Nabila dan Noval tengah menginap di rumah kami. Tanteku mengantar mereka dengan motor.  Kata mama, mereka diantar ke sini karena setiap hari mereka cuma main PS atau nonton TV. Jadi mereka diantar ke rumah kami. Sementara Nadia sudah pulang beberapa hari yang lalu.

Malam harinya, mamaku membuat acara belajar. Setiap anak mengambil sebuah buku pengetahuan berisi pertanyaan dan ada jawabannya. Aku memilih buku Aneka Keajaiban. Noval memilih Tempat-Tempat Terkenal. Adikku, Luqman memilih Roda dan Sayap. Kalau Nabila, aku sudah lupa lagi dia memilih buku apa.

Kami disuruh membaca buku kami. Lalu kami disuruh memegang sebuah kertas dan pulpen. Kata mamaku, “Kasih nama dulu kertasnya biar nggak ketukar.” Lalu kami disuruh menggambar buah kesukaan kami. Lalu menggambar makanan kesukaan. Lalu menggambar siapa di antara kedua orangtua kami yang paling sering marah sama kalian. Siapa diantara  kedua orangtua yang paling sering dibikin repot. Kalau yang satu lagi aku lupa.

Lalu kami disuruh bertukaran kertas. Aku memegang kertas Noval. Noval yang Luqman. Nabila yang aku. Dan Luqman yang Nabila. Kami disuruh menebak gambar apa yang ada di kertas kami. Setelah menebak, Mama pergi mengambil papan tulis di ruang tamu. Noval tiba-tiba bilang, “Eh, lihat coba nama yang di kertas aku.” Aku yang memegang kertasnya membacakan keras-keras. “Muhammad Noval Bajigur.” Kami langsung tertawa-tawa. Tawa kami tak berhenti sampai mama datang.

Kami harus membuat cerita dan mama menuliskannya di papan tulis. Kami harus membuatnya dengan berbicara keras-keras. Dimulai dari Luqman. Judul cerita Luqman adalah Hidung yang Ingin Bergabung Dengan Manusia. Cerita Luqman jadi bahan pembicaraan kami sampai esok hari. Judul cerita Noval adalah Nahkoda dan Air Terjun. Ceritaku berjudul Kisah si Gula Kubus. Cerita Nabila adalah Detektif dan Gunung Masigit.

Ceritaku dan Nabila direkam dengan handphone mama karena papan tulisnya tidak cukup.

Sambil bercerita kami tertawa dan tertawa sampai pelajaran selesai. Lalu kami tidur. Aku tidur dengan Nabila dan mama di kamar tengah. Sementara Luqman dan Noval tidur dengan papa di kamar depan. Kami tidur dengan hati yang gembira.

Azkia Ainul Mardhiah

Sabtu, 19 Mei 2012, Cerah

( Saturday, 19 May 2012, Sunny )

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sebuah Pertanyaan

Liburan tahun baru 2012 yang lalu, sepupu-sepupuku datang berlibur. Kedua sepupuku, Nabila dan Noval, menginap di rumah tante-ku. Beberapa hari kemudian, mereka datang lagi menginap semalam.

Setelah makan malam dan sholat, aku dan adikku, Luqman, Nabila, Noval, dan adik mereka, Nadia, mengerumuni papaku, menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Setelah beberapa pertanyaan, giliran papaku yang bertanya, “Nanti di dalam kubur, malaikat akan datang bertanya kepada kita.’Apa yang pernah kamu lakukan di dunia ini?’” Sepupuku Noval bilang, “Nggak tahu. Hahahahaha.” Jelas saja kami semua tertawa. Kata papa, “Nanti malaikatnya marah kalau abang bilang gitu. Dipukulnya abang nanti. Kami masih tertawa sampai acara tanya-jawab itu selesai.

Azkia Ainul Mardhiah

Sabtu, 19 Mei 2012, Cerah

( Saturday, 19 May 2012, Sunny )

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS